Senin, 09 Juni 2014

Apa Maksudnya?? (2)

"Pasti boleh mang" mang Yusuf pergi tidak tahu kemana. "ada apa?" Tangan kak Galuh menepuk pundak ku untuk menanyakan kenapa keadaan ku bisa seperti ini, tentu nya pada saat mang Yusuf sudah tidak ada, aku hanya menggelengkan kepala ku yang berarti tidak apa-apa, tatapan kak Galuh semakin melekat memperhatikan diriku, kepala kak Galuh pun menunduk sedikit karena memang aku lebih pendek darinya dan menatap mataku lekat-lekat.

"Jujur sama aku, aku udah tau kebiasaan kamu" perkataan kak Galuh barusan membuatku bingung dengan apa yang harus aku katakan kepada diri nya, tangan kanan nya yang tadi berada di pundak ku kini sudah berada di pipiku. Karena aku sudah tidak kuat untuk menceritakan itu semua aku hanya bisa nangis, terlalu banyak beban yang aku tanggung, setiap aku memiliki masalah baru memang pasti aku selalu bercerita kepada mang Yusuf, tapi tidak semua nya aku ceritakan, aku tahu dengan yang nama nya batasan, tidak mungkin aku menceritakan cerita yang selengkap nya. Dengan cepat kak Galuh langsung memeluk ku, Tanpa memedulikan baju ku yang basah ini, setiap di peluk kak Galuh aku merasa tenang, seakan tidak ada beban yang aku tanggung.

"Stop dong, kamu jangan nangis, kalo kamu mau nangis kamu juga harus janji sama aku, kamu boleh nangis sepuas nya, tapi bukan nangis yang berlarut-larut, cukup menangis sekali namun sepuas nya, jangan menangisi hal yang sama, ga perlu kamu pikirin apa yang mereka diluar sana bilang sama kamu, aku percaya kalau semua itu hanya tipuan agar timbul masalah antara kita, kamu punya aku, aku yang bakalan selalu ada buat kamu, aku yang akan terus percaya sama kamu, kamu percaya itu semua kan?" Jelas kak Galuh panjang lebar, nasihat kak Galuh barusan membuat aku memiliki motivasi baru untuk menjalani hari-hari ku kedepan nya. Kak Galuh melepaskan pelukan nya, lalu menghapus sisa air mata dipipi ku, karena kak Galuh mendengar suara langkah juga, dari pada mereka di jadi kan gosip hal-hal yang tidak baik maka itu kak Galuh melepas pelukan nya

Kak Galuh adalah pacar ku, dia anak populer di sekolah, tinggi, putih, cool, ketua osis, dan memiliki prestasi yang sangangat bagus dalam segala hal, aku tahu pria sempurna seperti itu hanya ada di novel-novel saja, tapi ini lah kenyataan nya. Aku menerima nya bukan karena alasan itu semua, aku sudah kenal lama dengan kak Galuh, alu tahu semua tentang kak Galuh, Dan ada hal rahasia kenapa aku menerima nya, yang tahu hanya aku dan kak Galuh, karena itu aku menerima nya.

Tapi mungkin hal itu yang membuat banyak murid-murid di sekolah ku ini yang tidak suka dengan keberadaanku, aku hanya murid kelas 10, baru lepas seragam putih biru, badanku mungil, berkulit manis, dan berparas seperti orang arab. Aku memang campuran Arab, Belanda, dan Indonesia, ibu ku keturunan dekat arab, namun tinggal di indonesia sudah lama, ayah ku orang belanda, yang sekarang tinggal di belanda mengurusi ngerjaan nya, aku di rumah hanya berdua dengan ibu, sedangkan banyak murid-murid di kelas ku yang lebih layak mendapatkan kak Galuh.

"Nak Galuh tolong antar neng Kezia ke toilet ya tungguin di depan toilet, takut ada yang gangguin neng Kezia kalo ga di jagain pintu nya, ini baju neng Kezia yang neng Kezia pernah titip di saya" ujar mang Yusuf setiba nya di depan kak Galuh, suara langkah tadi adalah suara langkah mang Yusuf. Ternyata tadi mang Yusuf mengambilkan baju ku, ya memang aku menitipkan baju sekolah ku yang bersih disini, untuk jaga-jaga saja apa bila terjadi hal-hal seperti ini, mang Yusuf berkata sambil memberikan pakaian bersih kepada kak Galuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar